Senin, 21 Juli 2014

Crayon Merah di Atas Kertas Putih

kibaran bendera
Papuahttp - Postingan kali ini akan banyak membahas tentang esensi bendera merah putih.
Kenapa sih warnanya merah?
Kenapa sih sampe Indonesia pada akhirnya memilih merah putih sebagai bendera negaranya?

Saya akan jelaskan terlebih dahulu bagaimana jejak langkah warna merah putih di Indonesia ini.
Awalnya digunakan oleh jayakatwang saat hendak melancarkan pemberontakan pada pemerintahan Kertanegara pada kerajaan singosari (1292 M). Hari besar kerajaan majapahit pada masa pemerintahan hayam wuruk selalu menggunakan bendera merah putih (1350 - 1389 M). Bendera sultan ageng saat melawan negri pati pada babad tanah jawa juga menggunakan merah putih (1613-1645 M).

Bendera perang Sisingamangaraja IX dari tanah Batak pun memakai warna merah putih sebagai warna benderanya, bergambar pedang kembar warna putih dengan dasar merah menyala dan putih. Begitu pula pejuang aceh yang mengibarkan umbul-umbul merah putih disertai gambar pedang, bulan, bintang, dan ayat-ayat suci Al-quran.
Bendera worompang kerajaan bugis bone sulawesi selatan sebelum Arung Palakka juga berwarna merah putih.

Perjuangan kedaerahan yang terakhir kali menggunakan bendera merah putih adalah perang jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro (1825-1830 M). Kata-kata yang sangat terkenal yang diucapkan pada istrinya saat bendera merah putih dikibarkan di Selarong dan Pangeran Diponegoro melihatnya dari jauh,

"Perang telah mulai, kita akan pindah ke Selarong.
Pergilah Adinda ke sana, dan berikanlah segala intan permata dan emas perakmu
kepada rakyat yang mengikuti kita.”

Setelah kekalahan Pangeran Diponegoro pada perang jawa tahun 1830 M, bendera merah putih tidak pernah dikibarkan lagi hingga hampir satu abad kemudian..

Sejarah terus bergulir hingga sampai di abad XX, tepatnya pada tahun 1922 Perhimpunan Indonesia mengibarkan bendera Merah Putih di Belanda dengan kepala banteng ditengah-tengahnya. Perhimpunan Indonesia merupakah organisasi orang-orang indonesia yang hidup di belanda dan bendera merah putih pertamaklalinya dikibarkan di abad XX justru di benua yang jauh dari Indonesia. 1927 kelahiran organisasi PNI dengan merah putih dan gambar banteng. 1928 Kongres Indonesia Muda (atau lebih dikenal dalam peristiwa Sumpah Pemuda) juga mengibarkan merah putih dengan hiasan gambar burung garuda.

Puncak legitimasi bendera merah putih ini adalah pada tanggal 17 Agustus 1945 yaitu saat proklamasi kemerdekaan Indonesia, dan semakin diperkuat kedudukannya pada tanggal 18 Agustus 1945 karena dituangkannya pula keterangan bahwa "Bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih" pada UUD 1945, Pasal 35.

Itulah singkat cerita sejarah merah putih, yang sudah saya coba untuk merangkumnya.
Kalo dirasa masih kurang lengkap silahkan temen-temen cari sendiri, pasti banyak kok dapet fakta sejarah tentang penggunaan warna merah putih. Dan saya benar-benar menunggu sharing dari temen-temen sekalian.
Sekarang yang harus kita pahami, apa sih esensi dari merah putih?

1. Merah = Berani, Putih = Suci
Ini pemahaman yang paling umum. Saya nggak mau menyalahkan, dan memang bener bahwa merah itu berani, putih itu suci. Tapi semestinya ada pemahaman yang lebih mendalam dari sekedar makna merah dan putih, yaitu alasan kenapa pada akhirnya Indonesia memilih warna merah dan putih.

2. Zat Hidup
Dalam buku karangan Mohammad Yamin "6000 Tahun Sang Saka Merah Putih", tahun 1958 dijelaskan bahwa, warna merah simbol matahari dan warna putih sebagai simbol bulan. Merah putih bermakna "zat hidup". Hanya tidak dijelaskan makna "zat hidup". Buku ini ingin membuktikan, Merah Putih sudah menjadi simbol bangsa Indonesia sejak kedatangan mereka di kepulauan Nusantara 6.000 tahun lampau.

Kalo yang saya tangkap inti dari zat hidup itu adalah sebuah paduan antara warna merah dan putih, bagi nenek moyang kita rupanya adalah gambaran dari peristiwa timbal balik, dan menjadikan sesuatu bermanfaat bagi manusia.

Langit dan bumi bersatu lewat tanah dan hujan untuk menumbuhkan tanaman. Kehidupan dan kematian membuat alam menjadi seimbang. Laki-laki dan perempuan (ehm, ini postingan anti-galau lho ya, jangan merusak suasana) yang saling melengkapi hidup satu sama lain.
Memang nggak bisa dipungkiri pemahaman "Zat Hidup" itu sangat erat hubungannya dengan animisme dan dinamisme yang ada sejak ribuan tahun yang lalu. Sedangkan agama seperti islam masuk sekitar abad XII. Saya nggak bisa menyalahkan kalo pendahulu-pendahulu kita punya pemikiran seperti ini. Harus kita hormati, kita pahami dalam hati, tapi bagi saya pribadi saya akan selalu ingat bahwa keseimbangan dan zat hidup tersebut bagaimanapun merupakan berkah dan rahmat Allah SWT.

3. Gula Kelapa
Ini teori yang paling saya suka dan benar-benar menimbulkan pemikiran tersendiri buat saya.
Pada zaman kerajaan mataram dulu, warna merah putih itu lebih dikenal sebagai warnanya gula merah dan parutan kelapa. Salah satu bentuknya masih tersimpan sebagai pusaka dalam Keraton Surakarta, yaitu bendera Kyai Ageng Tarub, putra Raden Wijaya, yang dasarnya berwarna putih dengan tulisan Arab Jawa dan atasnya bergaris merah. Sultan ageng yang saya ceritakan di atas pun dalam babat tanah Jawa yang bernama babab Mentawis (Jilid II hal 123) menamai bendera merah putihnya sebagai bendera Merah Putih “Gula Kelapa”.

Gula kelapa ini ternyata merupakan makanan ringan bagi masyarakat indonesia saat itu. Dari yang raja, sampe yang buruh-buruh tani semuanya nyemil gula merah + kelapa parut. Yang sangat ingin saya garis bawahi adalah..
Ternyata negara kepulauan terbesar di dunia,
Dipersatukan oleh cemilan..
Dan anehnya saya ga merasa sedih atau jadi konyol. Malah ide ini brilian banget menurut saya.
Bayangkan saja, kalo hanya dengan cemilan saja sudah cukup untuk mempersatukan kita, hal apalagi sih yang bisa memecah belah kita sebagai Indonesia?
Jika hal yang simple sesimple cemilan saja bisa mempersatukan kita, seharusnya hal-hal kompleks yang lain justru bisa mempersatukan kita lebih erat lagi.
Begitu juga dengan perpecahan, jika hal yang simple bisa mempersatukan kita, kenapa hal yang kompleks bisa memecah kita kembali? Memang sedang ada yang salah dengan indonesia saat ini.

Tidak seharusnya kita terjebak dalam kompleksnya perpecahan, karena sesungguhnya persatuan sangatlah simple.
Sesimple bendera kita Indonesia ini.. Hanya merah dan putih yang menjadi satu dalam sebuah bendera..
Untuk membuktikan betapa simplenya, silahkan anda cari anak TK Se-Indonesia,
Siapa diantara mereka yang nggak bisa gambar bendera Indonesia?
Saya yakin ga ada, kalopun ada saya yakin anda pasti mencarinya dengan susah payah.

The freedom is simple

Hanya crayon merah dan kertas putih sudah cukup untuk bisa menjadikannya sebuah gambar bendera indonesia.
Mari kita bandingkan dengan bendera negara lain. Negara yang sudah jauh kemajuannya dibandingkan negara kita.

Bendera Amerika
Sekarang mari kita cari anak TK di amerika yang ga bisa bikin gambar bendera amerika dengan benar. Saya yakin banyak yang ga bisa. Bisa pun pasti hasilnya jelek, gambarnya bengkok-bengkok. Belum lagi hitungan berapa bintang, berapa garis, dan berapa proporsi garis merah dan putihnya.
Tapi walaupun bendera kita simple, bukan berarti nggak kreatif lho!
Kalo mau ngomongin masalah ga kreatif, ada negara yang jauh lebih parah benderanya.

Bendera Libya
Yaitu bendera libya yang gambarnya ada di atas ini. Itu bendera lho temen-temen.
Bukan sekedar saya bikin di paint ada shape rectangular trus saya kasi warna hijau, bukan!
Itu bener-bener bendera libya..

Jadi karena itulah menurut saya kita benar-benar harus bangga terhadap bendera yang kita miliki ini.
Secara esensi maupun visualisasi menurut saya Sang Merah Putih itu hampir tidak ada tandingannya lagi di dunia..

Bangga Menjadi Indonesia

Yah begitulah mungkin yang bisa saya tulis untuk saat ini.
Yang namanya sejarah pasti banyak versi, banyak kontoversi, dan semua tulisan saya di atas pasti ada yang tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi. Kembali lagi saya hanyalah manusia yang nggak memiliki segala ilmu di dunia ini. Semoga jika ada salahnya Allah yang akan menuntun kita semua menuju kebenaran hakiki.

Oh iya, ada sebuah pernyataan pribadi yang menurut saya sangat cocok untuk menutup artikel ini..
Bendera Indonesia adalah dwitunggal
Merupakan perlambangan harmoni, bukan sintesis.
Oleh karena itu bendera indonesia berwarna merah dan putih, bukan merah jambu
Merupakan harmoni antara yang merah dan yang putih
Bukan sintesis antara merah dan putih yaitu merah jambu
Karena Bhinneka Tunggal Ika
Bukan berarti yang prural menjadi satu entitas
Yang prural tetaplah prural
Tapi kita bisa hidup bersama untuk mengisi warna pada bendera ini

Kamis, 17 Juli 2014

Jikalah Engkau Tau tentang Papuaku

Papuahttp - Dengan tidak bermaksud mengurangi rasa hormat terhadap nyawa manusia, saya mengucapkan selamat kepada aparat TNI dan Polri yang bertugas di Papua. Setidaknya dalam seminggu ini aparat berhasil menumpas dua gembong kriminal yang selama ini selalu mengganggu dan meneror masyarakat Papua.


Pertama adalah Timika Wonda, salah satu komandan OPM yang sering beroperasi di wilayah Tingginambut, Puncak Jaya, Papua. Timika Wonda merupakan orang kepercayaan Panglima TPN OPM Goliath Tabuni, pimpinan organisasi garis keras separatis yang berjuang untuk Papua merdeka. Wonda tewas setelah mengalami kontak tembak hebat dengan tim patroli dari Yonif 751/Raider pimpinan Lettu Inf Firman. Kelompok Timika Wonda ini adalah kelompok yang sering meneror dan merampok warga di Puncak Jaya. Mereka juga diketahui sebagai kelompok yang sering menembaki aparat TNI/Polri. 




Sedangkan yang kedua adalah Rudi Oreri, seorang Panglima OPM wilayah Kepulauan Yapen dan Mamberamo. Dia tewas saat baku tembak dengan tim gabungan Polri dan TNI di Kep Yapen. Dari tangan separatis ini, diperoleh 1 pucuk senjata SS1 V5 yang merupakan senjata rampasan milik anggota Polri. Kelompok Rudi ini diketahui memiliki catatan kriminal yang sangat buruk. Mereka pernah terlibat dalam penyerangan Polsek Anggasera Kep Yapen pada 2013. Menurut Kapolda Papua, Tito Karnavian, mereka juga pernah menganiaya tokoh agama dan memaksanya memakan tanah. Terakhir, kelompk Rudi ini melakukan pembunuhan terhadap pemuda bernama Erens Aninam.


Mungkin banyak dari kompasianer yang membaca artikel ini menyayangkan kejadian-kejadian seperti ini. Kenapa “kekerasan” di Papua tidak ada hentinya. Kenapa pendekatan yang dilakukan bukan pendekatan kesejahteraan, melainkan pendekatan keamanan. Mungkin banyak dari kompasianer yang tidak tahu bahwa semua pendekatan telah dan sedang dilakukan di Papua saat ini. Tidak hanya penumpasan kelompok bersenjata seperti yang sering diberitakan. Wajar jika masyarakat hanya mengetahui tindakan represif yang dilakukan TNI/Polri, karena memang hanya itu yang selalu diberitakan oleh media.



Mal Jayapura
Mal Abepura
Hola Plaza Waena

SAGA Waena

Perlu diketahui, di Papua dalam kurun waktu 10 tahun mengalami pembangunan yang sangat pesat. Jalan-jalan untuk menembus daerah terisolir dan fasilitas umum lainnya dibangun di Papua. Mungkin orang yang terakhir kali datang ke Papua 10 tahun yang lalu dan sekarang datang lagi ke Papua akan sangat “pangling” bahkan terkagum-kagum dengan kemajuan pembangunan Papua. Memang pembangunan di Papua belum merata ke semua wilayah karena wilayah Papua memang sangat luas dengan kontur medan yang sangat sulit yang berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Pun begitu, proses menuju pembangunan merata ke semua wilayah sedang dilakukan secara intensif di Papua.


Mengenai tindakan represif, mungkin banyak yang menyayangkan. Tapi sebenarnya tindakan represif adalah tindakan “terpaksa” yang dilakukan aparat TNI/Polri. Pemerintah daerah, TNI dan Polri tidak henti-hentinya mengajak masyarakat untuk bersama-sama satu hati membangun Papua dengan damai di bawah bingkai NKRI. Kepada kelompok yang berbeda paham dan menuntut merdeka, Polda Papua dan Kodam Cenderawasih memisahkan ke dalam 2 kelompok. Pertama adalah yang tidak bersenjata. Kepada kelompok ini, TNI/Polri selalu mengajak secara persuasif untuk “kembali” kepada jati diri sebagai insan satu bangsa Indonesia. Sedangkan yang kedua adalah yang bersenjata dan selalu meneror masyarakat. Aparat TNI/Polri tidak segan-segan untuk menumpas dengan cara yang paling tegas.


Kenapa kelompok-kelompok separatis Papua saat ini banyak yang tertangkap atau tewas ditembak aparat? Peran serta masyarakat adalah kuncinya. Masyarakat yang pada awalnya terhasut, saat ini mulai sadar bahwa Pemerintah, TNI dan Polri mempunyai niat mulia untuk membangun Papua yang sejahtera dan damai. Mereka pun mulai yakin bahwa OPM tidak ubahnya kelompok kriminal yang hanya akan menghambat terwujudnya kesejahteraan dan kedamaian di Papua. Masyarakat saat ini sangat kooperatif terhadap aparat dengan selalu menginformasikan apabila OPM akan melancarkan aksi.


Sebagai penutup, mari kita berdoa semoga kelompok separatis bersenjata Papua segera sadar dan menyerahkan senjatanya kepada TNI/Polri sehingga aparat tidak perlu lagi memuntahkan proyektil untuk menumpas “bromocorah” di Papua. Kelompok yang berbeda paham pun segera sadar bahwa keutuhan NKRI dari Sabang sampai Merauke sudah tidak perlu diperdebatkan lagi. Tantangan untuk mewujudkan Papua yang maju dan damai harus segera dieksekusi oleh para pemuda dan pemudi Papua. Mari Pace Mace, Kitong Bikin Papua Lebih Baik Lagi.

Penembakan di Papua kembali Terjadi

Kompasiana.com - Lagi-lagi terjadi peristiwa yang sangat tidak diharapkan. Tepatnya pada hari Rabu, 16 Juli 2014 sekitar pukul 14.15 WIT mobil lajuran Wamena – Mulia yang akan menuju ke Kampung Kalome dan Kampung Dangobak dihadang dan ditembaki oleh kelompok Orang Tak Dikenal (OTK). Mobil tersebut sedang membawa bahan sembako yang akan di distribusikan untuk masyarakat.
Dari penembakan tersebut, 2 orang sopir warga sipil atas nama saudara Kallo (30 th) dan saudara Laksamana (24 th) meninggal ditempat akibat terkena tembak dibagian kepala serta 1 orang atas nama saudara Bahar (40 th) terkena luka tembak dibagian pantat. Selain itu juga terdapat 4 mobil Merk Mitsubishi Strada yang dibakar

Setelah menerima informasi bahwa terjadi penghadangan dan pembakaran yang disertai penembakan yang dilakukan oleh OTK tersebut, pasukan dari Satgas Yonif 751/R dan Tim Khusus dari Polres Mulia langsung menuju ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk melakukan evakuasi terhadap korban untuk segera dibawa ke Rumah Sakit terdekat dan Pasukan lainnya dari Gabungan TNI dan Polri melakukan pengamanan dan penjagaan disekitar TKP.
Kejadian penembakan seperti ini sering kali terjadi di daerah-daerah pegunungan yang jauh dari Pos Pengamanan TNI/Polri. Diduga aksi pengahadangan dan pembakaran yang disertai penembakan tersebut terjadi untuk menghambat jalannya perekonomian didaerah pegunungan yang sulit dijangkau.

Kejadian ini sangat meresahkan dan merugikan masyarakat sekitar. Karena selain terganggu oleh aksi penembakan, harga sembako pun menjadi mahal karena kendaraan yang mendistribusikan sembako ke daerah tersebut sering dihadang oleh Orang Tak Dikenal. Inilah yang menyebabkan terhambatnya perkembangan ekonomi didaerah tersebut sehingga kesejahteraan pun semakin sulit dicapai.
Diharapkan kepada masyarakat sekitar yang melihat, mendengar ataupun mengetahui adanya orang-orang tak dikenal yang terindikasi ingin berbuat aksi tersebut, segera dilaporkan ke aparat keamanan di daerah sekitar untuk mencegah terjadinya kembali aksi-aksi yang tidak diinginkan tersebut.

Selasa, 15 Juli 2014

Jangan Paksa Aparat Bertindak Tegas

Src : Kompasiana.Kondisi Papua meskipun secara umum dirasa damai, namun selalu saja ada isu yang tersebar bahwa Papua  merupakan daerah yang sering dilanda konflik, kekerasan dan penganiayaan. Ditinjau dari apa yang terjadi, mungkin saja hal tersebut memang benar, namun mungkin juga tidak.

Salah satu isu yang sering didengung-dengungkan adalah pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) yang dilakukan aparat TNI dan Kepolisian terhadap masyarakat Papua. Untuk melihat banyaknya isu tersebut, setidaknya dengan mudah dapat dilihat melalui media-media berita dan sosial di internet. Coba saja lakukan pencarian dengan keywords “Pelanggaran HAM TNI-Polri di Papua”. Sebagai contoh, salah satuweb yang memuat isu tentang hal tersebut bisa dilihat di link berikut :
http://holandianews.blogspot.com/2014/02/west-papuans-beaten-and-had-guns-held.html
Artikel pada link tersebut tertulis dengan judul “West Papuan’s beaten and had guns held to head in military operation”. Selain link tersebut, salah satu web lainnya yang menyebarkan isu tersebut juga dapat dilihat di link berikut :
Pada web di link tersebut, tertulis berita dengan judul “PELANGGARAN HAM DI TANAH WEST PAPUA”.

Kedua web tersebut berisikan artikel yang menyudutkan TNI maupun Polri sebagai aparat keamanan yang sedang bertugas di Papua. Dalam tulisannya, tertulis seolah-olah aparat keamanan yang sedang bertugas di sana merupakan instansi-instansi yang sedang melakukan pelanggaran HAM terhadap rakyat Papua, namun nyatanya tidak demikian. Semua itu hanya isu dan opini yang sengaja dibuat untuk menggiring pemahaman para pembaca terhadap apa yang mereka tulis. Apa yang para penulis tersbut lakukan tidaklah aneh, karena media internet merupakan media umum, sehingga siapapun dengan mudah dapat menulis apa saja yang diinginkannya, apapun motif yang melatarbelakanginya.
Apa yang sebenarnya terjadi di Papua ? Benarkah semua isu yang selama ini tersebar ? Siapakah pihak yang kerap menyebarkan isu tersebut ? Apa motif mereka ? Benarkah aparat TNI dan Polri di Papua sering melakukan pelanggaran HAM dan penindasan terhadap masyarakat Papua ? Mari kita coba teliti dengan hati dan fikiran yang jernih.


Melihat Secara Jernih Atas Isu Pelanggaran HAM di Papua

Apa yang terjadi di Papua, bukanlah pelanggaran HAM dan penindasan yang dilakukan oleh aparat keamanan terhadap rakyat Papua. Semua itu hanyalah isu yang diputarbalikkan di atas fakta yang sebenarnya terjadi. Entah apa motif yang melatar belakangi mereka, namun yang jelas apa yang mereka lakukan bukanlah suatu perbuatan yang baik, justru hanya akan menimbulkan banyak dampak negatif.
Isu mengenai penembakkan dan foto-foto yang tersebar, mungkin saja hal itu memang benar. Namun apa yang mereka katakan sebagai penindasan atau pelanggaran HAM, hal tersebutlah yang menjadi masalah dan perlu dipertanyakan. Isu-isu tersebut hanyalah pemutarbalikan fakta saja. Kalaupun memang ada hal tersebut terjadi, mungkin saja hal tersebut dilakukan secara personal oleh oknum TNI ataupun Polri. Sungguh tidak etis bila hal tersebut digeneralisir menjadi isu pelanggaran HAM yang dilakukan TNI dan Polri yang mempunyai tugas mulia, memberikan pelayanan keamanan bagi masyarakat Papua.
Untuk membuktikan hal tersebut, ada baiknya saya mengutip beberapa pernyataan Mayjen TNI Christian Zebua, M.M. selaku Pangdam XVII/Cenderawasih (Pimpinan tertinggi jajaran TNI di Papua) dan Irjen (Pol). Drs, Tito Karnavian M.A. selaku Kepala Kepolisian Daerah Papua (Pimpinan tertinggi jajaran kepolisian di Papua). Berikut beberapa pernyataan beliau berdua dalam beberapa media internet.


Pernyataan Mayjen TNI Christian Zebua, M.M.

“Saya sudah perintahkan seluruh anggota agar siaga dan waspada serta bertindak tegas bila ada kelompok bersenjata yang ingin menganggu jalannya pilpres,”. Pernyataan tersebut dimuat web www.intelijen.co.id tanggal 06 Juli 2014 kategori militer. Pernyataan yang sama pun dimuat di web antaranews.com pada hari yang sama.
“Kita sudah bekerja keras , tunggu saja hasilnya nanti, kan sudah kita buktikan, bagaimana di Puncak, mereka tidak tobat, ya mereka kita tindaki sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku, dan ini berlaku bagi semua kelompok yang mengancam keamanan baik itu masyarakat setempat dan juga kesatuan NKRI,” Pernytaan tersebut dimuat di web suluhpapua.com tanggal 14 April 2014.


Pernyataan Irjen (Pol). Drs, Tito Karnavian M.A.

“Dalam mengantisipasi hal tersebut, kami dari Polda Papua akan mengambil langkah secara persuasive kecuali jika ada kelompok-kelompok yang melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan aturan hukum,” dan “Pasti ada langkah tegas yang kami lakukan jika ada kelompok-kelompok atau mengganggu Negara RI,” Kedua pernyataan tersebut dimuat di web bintangpapua.com tanggal 19 Juni 2013.
Beberapa pernyataan yang telah dikutip di atas, cukup mudah kiranya bagi para pembaca untuk menilai terhadap kebijakan kedua pimpinan tertinggi jajaran TNI maupun Polri dalam melaksanakan tugasnya. Beliau berdua, memimpin para prajurit dan bawahannya untuk menjaga keamanan di Papua. Pernyataan beliau berdua tersebut berkaitan dengan gangguan-gangguan keamanan yang kadang terjadi di wilayah Papua, yang terkadang dilakukan oleh sekelompok kecil warga Papua bersenjata dalam rangka mengganggu keamanan. Terkait hal tersebut, jelas dari pernyataan beliau berdua bahwa TNI dan Polri akan menindak tegas bagi siapapun yang mengancam keamanan dan keselamatan masyarakat dan NKRI serta yang bertindak tidak sesuai dengan aturan. Selain itu, jelas dari pernyataan beliau berdua juga bahwa tindakan yang akan diambil baik oleh TNI maupun Polri terhadap para pengganggu dan pengacau keamanan, akan ditindak sesuai aturan hukum yang berlaku.
Terkait pernyataan kedua pimpinan tersebut dengan isu tentang pelanggaran HAM oleh aparat yang terjadi di Papua, dengan mudah kita dapat menganalisisnya. Isu-isu yang disebar tidak lain hanyalah pemutarbalikan fakta semata. Fakta yang sebenarnya mengenai isu-isu tersebut adalah aparat TNI dan Polri yang sedang bertugas, terpaksa bertindak tegas terhadap para pengganggu keamanan yang tidak bisa diajak persuasif. TNI dan Polri tidak mungkin melakukan tindakan tanpa sebab. Tindakan apapun yang diambil oleh para prajurit TNI maupun Polri ketika bertugas, pasti semua sudah diperhitungkan dan disesuaikan dengan hukum yang berlaku, terlebih bila harus terpaksa melakukan penembakkan terhadap pengganggu keamanan. Kalaupun memang ada suatu tindakan yang dilakukan oleh anggota TNI ataupun Polri yang tidak sesuai hukum, sudah tentu hal tersebut hanya bersifat personal oleh oknum TNI dan Polri saja, bukan atas nama instansi. Pernyataan kedua pimpinan TNI dan Polri sudah jelas beliau berdua tidak sedikitpun memerintahkan anggotanya untuk bertindak semena-mena, terlebih harus melanggar HAM. Oleh karena itu, sekelompok warga Papua yang kini masih bermotivasi untuk mengganggu keamanan di Papua, sudah selayaknya tidak memaksa aparat bertindak tegas terhadap mereka. (BM)

Kamis, 10 Juli 2014

Isu Sebagian Wilayah Papua Terhambat Memilih Tidak Benar !!!

Jayapura (09/07) - Saat rehat sejenak setelah memilih Presiden pilihan saya, tak sengaja melihat berita tulisan berjalan di Metro TV siang. Dalam berita tertulis kurang lebih, ada sembilan distrik di wilayah Paniai-Papua tidak mencoblos karena dihadang oleh sebagian gerombolan.

Saat melihat berita dalam Metro TV siang tersebut, saya cukup kaget walau sejenak kemudian saya berfikir bahwa memang mungkin saja hal tersebut terjadi. Sudah bukan rahasia, di Papua memang ada isu-isu bahwa ada sekelompok kecil warga Papua yang tidak sejalan dalam pemikiran dengan pemerintahan dan warga Papua secara umum. Dalam isu-isu yang tersebar, mereka berencana melakukan kegiatan-kegiatan untuk memboikot terselenggaranya Pemilihan Presiden (Pilpres) tanggal 09 Juli 2014 sekarang ini.

Terkait berita Metro TV siang bahwa ada sembilan distrik di wilayah Paniai yang tidak melaksanakan pencoblosan dikarenakan adanya penghadangan dari gerombolan, iseng-iseng karena penasaran, saya mencoba menyelidiki kebenaran hal tersebut. Beruntungnya, saya mempunyai beberapa teman di beberapa daerah di wilayah Paniai sana. Tak menunggu waktu, saya langsung layangkan saja pesan singkat kepada 3 teman yang ada di 3 distrik yang berbeda di sana. Tak panjang-panjang, setelah saya sapa dengan menanya kabar, saya langsung to the point menanyakan apakah teman saya disana sudah memilih atau belum. Berikut pesan singkat yang saya kirim, “Siang kawan, apa kabar ? Gimana nih, su milih kah belum ?”. Begitulah pesan singkat yang saya kirim. Oh ya, perlu disampaikan, untuk kata “su” dalam pesan singkat saya tersebut maksunya “sudah” yang disingkat jadi “su” sebagai bahasa kebiasaan di Papua.

Tak lama kemudian, satu persatu teman saya memberika balasan. Berikut beberapa jawaban teman saya. Teman pertama menjawab singkat, “Baik,..gimana kabarmu ? Sa su milih toh...”. Selanjutnya teman kedua, entah mungkin sedang sibuk atau apa, dia jawab singkat saja, “Baik,..sa su milih”. Terakhir, teman saya yang ketiga dia menjawab, “sa baik-baik saja kawan, sa baru saja milih nih. Sapa yang ko pilih pilih kah ?”

Agar tidak bertele-tele, saya tidak akan menuliskan kelanjutan perbincangan saya dengan ketiga teman saya di Paniai sana. Yang terpenting, pada intinya tanpa memberikan analisa sayapun, para pembaca sudah dapat menyimpulkan sendiri menegenai kebenaran berita dalam Metro TV siang tersebut. Walaupun teman saya hanya ada di tiga distrik saja di wilayah Paniai, hal tersebut sudah cukup menepis berita bahwa ada 9 distrik di Paniai yang tidak mencoblos karena dihadang gerombolan. Terlebih dari itu, kalaupun memang benar berita tersebut, sudah tentu beritanya tidak akan hanya berupa tulisan berjalan yang hanya muncul dalam satu media saja. Bila berita tersebut benar, sudah tentu bak kilat berita tersebut akan cepat tersebar di media-media Televisi lainnya, terutama di twitter dan di facebook.


Dengan demikian, berita yang terlihat di Metro TV siang ternyata tidak benar. Puji Tuhan, Proses pemilihan Presiden dan Wakil Presiden di wilayah Papua sejauh ini berjalan dengan lancar dan aman. (Albert/Mahasiswa Uncen)

Hari Demokrasi Telah Tiba

Tak terasa, 09 Juli 2014 hari yang ditunggu-tunggu kita semua untuk turut serta menentukan siapa calon pemimpin kita ke depan, kini telah tiba saatnya. Hari ini, seluruh warga masyarakat bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke, dari rakyat kecil hingga Presiden, turun tangan bersama-sama mensukseskan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia periode 2014-2019.

Siapa pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang akan terpilih ? No.1 atau No.2 ? Silahkan bagi kita yang mempunyai hak pilih untuk menentukan pilihan masing-masing dan tidak menyia-nyiakannya. Hasilnya, nanti kita lihat bersama-sama dalam hasil perhitungan. Yang terpenting, siapapun Presiden yang akan terpilih nantinya, kita masih tetap sama-sama warga Indonesia, masih sama-sama diperlukan oleh Negara dan Presiden kita nantinya untuk sama-sama membangun bangsa Indonesia yang kita cintai ini agar semakin makmur dan sejahtera.

Tidak ada pemimpin tanpa yang dipimpin, tidak ada yang dipimpin tanpa pemimpin. Indonesia akan makmur bila pemimpin dan yang dipimpin mampu berkerja sama. Pemimpin harus mampu melaksanakan amanatnya mengemban aspirasi rakyat, begitupun dengan rakyat harus setia dan percaya terhadap apa-apa yang menjadi kebijakan pemimpin. Indonesia akan menjadi hebat dengan presiden dan rakyat yang hebat.

Memaknai apa yang kita laksanakan hari ini, bukanlah dengan harus terpilihnya calon Presiden pilihan kita. Kita hidup dalam bangsa yang majemuk, berjuta-juta rakyat mempunyai hak pilih yang sama dengan kita. Apabila yang terpilih nantinya sesuai dengan pilihan kita, kita berdo’a dan mendukungnya bersama-sama semoga beliau benar-benar menjadi pilihan yang terbaik. Namun apabila yang yang terpilih nantinya tidak sesuai dengan pilihan kita, kita juga tetap berdo’a dan mendukungnya bersama-sama semoga beliau menjadi pilihan yang terbaik. Jadi, siapapun yang terpilih nantinya, tentu pada akhirnya Beliaulah pilihan kita pada akhirnya. Beliaulah yang akan membawa aspirasi kita semua dalam program 5 tahun ke depan.


Selamat memilih bagi yang mempunyai hak pilih. Kita tunggu bersama-sama hasilnya. (Baim).

Kamis, 03 Juli 2014

Yoetefa-Papua Dilanda Kriminal, 2 Anggota Polisi Menjadi Korban

Jayapura (2/7) – Papua kembali dilanda kriminal, 2 anggota polisi atas nama Brigpol Hasriadi dan Brigpol Syamsul Huda menjadi korban sekelompok orang tak dikenal di area pasar Yoetefa – Abepura.

Secara kronologis, kejadian bermula sekitar pukul sembilan pagi saat kedua anggota polisi tersebut melaksanakan patroli bermotor di area Tanah Hitam - Pasar Youtefa. Mereka mendapat laporan dari warga pasar mengenai kegiatan perjudian dadu sekelompok orang yang belum lama hadir, yang berjumlah lebih dari 100 orang. Para warga melaporkan bahwa para pelaku dan kegiatan perjudian tersebut sungguh membuat mereka resah. Selain itu, mereka juga melaporkan bahwa para pelaku perjudian tersebut juga menyebarkan selebaran yang berisi seruan untuk memboikot kegiata Pemilihan Presiden (Pilpres) pada tanggal 09 Juli mendatang.

Berdasarkan laporan tersebut, sekitar pukul 15.30 kedua anggota polisi tersebut berinisiatif mendatangi lokasi. Mereka berangkat menggunakan sebuah kendaraan roda dua secara berboncengan.

Saat mereka tiba di lokasi, respon para pelaku perjudian yang seharusnya menghormati kedua polisi yang sedang melaksanakan tugasnya, sungguh di luar dugaan. Sebagian dari mereka melarikan diri, namun sebagian lainnya malah melakukan perlawanan. Dalam waktu yang singkat, sungguh naas kedua polisi tersebut telah dianiaya dan ditikam dengan senjata tajam. Tidak cukup hanya itu, mereka merampas 1 pucuk senjata SS1 milik kedua polisi tersebut dan melarikan diri ke arah perbatasan RI-PNG.

Mendengar kejadian tersebut, pihak Polisi dibantu anggota TNI wilayah setempat melakukan pengejaran terhadap para pelaku. Sementara kedua polisi yang yang menjadi korban dan dalam keadaan terluka parah segera dilarikan menuju Rs. Bhayangkara. Dalam perjalanan, Brigpol Hasriadi kehabisan darah dan tak mampu menahan nafas terakhirnya, sedangkan Brigpol Syamsul Huda dalam keadaan semakin kritis.


Kejadian ini sungguh sangat-sangat disayangkan, terutama dalam momen bulan suci ramadhan ini.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Blogger Themes | LunarPages Coupon Code