Rabu, 25 Januari 2017

Modal Hasil Pemerasan, Perwakilan KNPB Wamena Tiba Di Jayapura


Jayapura, PAPUANEWS.ID – Kabar tentang adanya rapat tertutup yang akan dilakukan oleh kelompok anti pembangunan Papua (KNPB) dan kelompok penipu masyarakat Papua (ULMWP) 27 Januari 2017 di Victoria untuk menjadikan Benny Wenda sebagai Presiden mulai terdengar oleh masyarakat.

Hal ini dikonfirmasi oleh salah satu masyarakat asli Papua, yang melaporkan pemerasan yang dilakukan anggota KNPB Wamena di pasar Misi Wouma terhadapnya dan seluruh mama Papua yang ada di pasar tersebut.

Mama Vero terpaksa memberikan sejumlah uang pada mereka (KNPB, red) karena takut terjadi kerusuhan jika tidak dituruti.

“Dong minta uang sama Mama, katanya buat pemilihan Presiden,” katanya.

Sebelumnya Mama Vero (panggilan akrabnya) sudah mencoba menjelaskan, bahwa Presiden Jokowi merupakan Presiden Mama Papua, namun mereka tidak menanggapinya.

Uang hasil pemerasan tersebut digunakan KNPB untuk membeli tiket pesawat ke Jayapura dengan mengirimkan perwakilannya Melianus Yaluock Wantik yang telah tiba di bandara Sentani, Senin (23/1).
Dari hasil wawancara tim redaksi PAPUANEWS.ID, Melianus mengatakan kedatangannya ke Jayapura karena mendapat surat perintah dari Goliat Tabuni untuk menghadiri pertemuan di Victoria.
Sementara Goliat Tabuni sendiri melalui telepon selularnya kepada PAPUANEWS.ID membantah adanya perintah rapat dan dukungannya terhadap ULMWP.

Sehingga agenda KNPB dan ULMWP sama saja dengan aksi-aksi demo yang telah mereka lakukan sebelumnya dan merupakan penipuan yang mereka lakukan kepada seluruh masyarakat di Provinsi Papua.

“Stop tipu masyarakat Papua, kami sudah punya Presiden Jokowi tidak perlu mo pilih Benny Wenda, yang tidak kami kenal,” kata Mama Vero sebelum menutup teleponnya. (red,Cs)

BNN Papua Waspadai Perdagangan Tembakau Gorila


Papuacenter – Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Papua baraat mewaspadai adanya upaya perdagangan tembakau gorila di wilayahnya karena efek negatif dari pemakaiannya yang sangat merugikan masyarakat.

Tembakau gorila sendiri hanya merupakan istilah lain dari ganja sintetis yang efeknya sama dengan narkotika dan obat-obatan aditif lainnya.

Pernyataan ini ditegaskan oleh Kepala BNN Papua Barat Kombes Pol Jakson Lapalonga “barang tersebut memiliki efek sama dengan narkotika dan obat-obatan aditif lainnya. Sebetulnya janis ini merupakan ganja sintetis atau ganja buatan,” jelasnya di Manokwari, Selasa (24/1)

Hal ini juga sudah diatur dalam lampiran Kementerian Kesehatan pada Undang Undang 35/2009 tentang Narkotika.

Selain melakukan sosialisasi kepada masyarakat, BNN Papua Barat juga melakukan penyelidikan untuk memastikan tidak adanya transaksi yang masuk ke Papua Barat.

Jackson berharap agar seluruh komponen masyarakat berkerja sama dalam memberantas perdagangan dan penyalahgunaan narkoba yang marak terjadi akhir-akhir ini. (red,Cs)

Selasa, 17 Januari 2017

Demo Di KJRI Sengaja Dibuat ULMWP Untuk Mengadu Domba Indonesia Dengan Australia


Papuacenter – Demo simpatisan Papua Merdeka yang dihadiri sekitar 20 orang di depan KJRI Melbourne, Ausitralia, Rabu (11/1) kemarin. Ternyata adalah sebuah settingan yang sengaja dibuat oleh ULMWP untuk mengadu domba pemerintah Indonesia dengan Australia, mengingat sebelumnya hubungan Indonesia dengan Australia sempat memanas karena ada insiden di pusat pelatihan militer Australia di Perth yang menyebut Pancasila sebagai ‘Pancagila’.

Hal itu diperkuat dengan hadirnya lima orang termasuk Jacob Rumbiak salah satu anggota dari  organisasi United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), dimana Jacob memberikan orasi dalam unjuk rasa tersebut yang merujuk pada insiden baru-baru ini di pusat pelatihan militer Australia di Perth mengenai ‘Pancagila’ yang dikaitkan dengan persepsi negatif soal apa yang terjadi di Papua.

Jacob Rumbiak sendiri sebelumnya merupakan aktivis asal Papua Barat yang telah mengasingkan diri dari Indonesia ke Australia sejak tahun 1999, setelah menjadi tahanan politik makar selama sepuluh tahun di Indonesia. Dari tahun 1999 hingga saat ini pula, Jacob Rumbiak tidak pernah menginjakkan kakinya di Indonesia terlebih khusus Papua. Sementara itu, Jacob sendiri saat ini telah menetap di Australia dan telah menjadi Warga Negara Australia.

Sebelumnya acara ini digelar oleh organisasi People Need Houses, yang secara rutin mengkampanyekan masalah tunawisma dan perumahan sosial di Australia melalui media sosial facebook di dalam fans page “People Need House”.

Australia Plus telah mencoba mengirimkan pesan kepada organisasi tersebut untuk mencari tahu apa yang membuat mereka tertarik dengan isu Papua Barat, namun belum mendapat balasan hingga saat ini.

Dalam halaman tersebut, 159 orang tertarik untuk datang dan 572 orang yang diundang. Dari pantauan di lapangan, ternyata hanya 20 orang saja yang hadir ke unjuk rasa tersebut. Namun pada kenyataannya di lapangan tidak diketahui pasti siapa yang menggelar unjuk rasa di kantor KJRI yang berada di kawasan Queens Road itu.

Selain itu, tidak ada pula yang mengaku datang dari organisasi People Need Houses.

“Saya datang ke sini setelah mendapat telepon dari teman akan ada unjuk rasa. Sepertinya ini dari beberapa organisasi saja,” ujar salah seorang yang datang ke unjuk rasa kepada Erwin Renaldi dari ABC Australia Plus Indonesia.(Red.AK)

Air Mata Yohana Saat Temui Keluarga Korban Di Sorong, Papua Barat


Papuacenter – Yohana Yembise, Menteri Pemberdayaan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia meneteskan air mata saat mengunjungi keluarga bocah empat tahun korban pemerkosaan dan pembunuhan sadis di Sorong, Papua Barat 10 Januari 2017.

Air mata Yohana bercucuran saat mendengar langsung cerita mengenaskan tersebut langsung dari keluarga korban, Sabtu (14/1)

Yohana mengungkapkan perasaannya bahwa dirinya sangat malu karena pelaku adalah orang Papua dan kejadian ini terjadi di tanah damai Papua.

Kasus kekerasan terhadap KM (40) ini merupakan kasus serius yang mendapat sorotan dunia internasional.

Hal itu dilihat dari banyaknya surat laporan yang diterima Yohana dari beberapa daerah di Indonesia bahkan kedutaan luar negeri.

Kehadirannya di tengah-tengah keluarga korban sendiri untuk menyampaikan ungkapan bela sungkawa yang sebesar-besarnya sekaligus menyerahkan bantuan dari pemerintah Indonesia.

Dirinya berharap hal tersebut dapat menjadi penghibur bagi keluarga korban dalam menghadapi permasalahan tersebut. (red,Cs)

Panah Dari Papua Dilelang


Papuacenter – Sovenir panah asli khas Papua akan dilelang di kota Pekanbaru, proses lelang ini dilakukan oleh komunitas #UntukPapua. Souvenir panah tersebut merupakan hiasan/pajangan yang biasa di letakkan di dinding ruang tamu.

Seperti yang dijelaskan oleh Penanggung Jawab Komunitas #UntukPapua, Pramana Putra bahwa sovenir panah yang dilelang langsung dibawa dari Papua saat mengikuti program SM3T di daerah Wamena. Framana juga menjelaskan bahwa proses lelang tersebut akan digelar malam ini di Waroeng Wahid Jl. Durian Pekanbaru.

Panah tersebut merupakan hasil buah tangan yang sengaja dibeli dari anak-anak Wamena dan sengaja dilelang. Hasil dana lelang ini nantinya akan disumbangkan untuk pembelian tambahan tas dalam program gerakan 1000 tas untuk Papua.

“Penawaran tertinggilah yang akan mendapatkannya. Tawaran bukan dengan uang, tapi dengan tas. Bagi yang bisa memberikan tas terbanyak maka panah ini akan jadi miliknya,” Ujar Ibam.

Lelang panah asli papua ini merupakan salah satu dari serangkaian acara yang akan diselenggarakan komunitas #UntukPapua di Pekan baru. Mulai dari talk show tetang pendidikan di Papuasampai dengan penampilan grup band ternama di kota Pekanbaru.

“Untuk penggalangan dana sudah berjalan sejak beberapa bulan yang lalu.  Sampai saat ini kita sudah kumpulkan sebanyak 154 tas. Antusias teman-teman Pekanbaru untuk menyumbang baik sekali dan banyak support,” terang Ibam (12/1).

Menurutnya tas yang berhasil dikumpulkan akan langsung dibawa ke pelosok Wamena Prov. Papua. Tujuan dari kegiatan ini ialah membantu anak-anak di pedalaman Prov. Papua agar mendapat pendidikan yang layak.(YK)

Ini Yang Akan Dilakukan Menteri Yohana Dengan Perempuan Papua


Papuacenter – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise berencana akan merealisasikan program pemberdayaan perempuan dan anak di Prov. Papua dan Papua Barat.

Yohana mengatakan bahwa program yang akan dijalankan nantinya berupa pelatihan mengukir, membuat minyak kelapa dan beberapa pelatihan lainnya.

Hal itu ia utarakan setelah berkordinasi bersama Menkopolhukam, Wiranto di kantor Kemenkopolhukam Jakarta pagi tadi.

Program tersebut memiliki tujuan agar perempuan-perempuan papua dapat mandiri dan dapat membantu perekonomian mereka mulai dari tingkat perekonomian keluarga. Rencananya Yohana akan membangun industri-industri rumahan di dua provinsi tersebut.

“Saat ini sudah dimulai dengan pelatihan-pelatihan, mesin bantu sudah kami bagi. Hal ini agar perempuan Papua dan Papua Barat dapat mandiri dan nantinya dapat membuat industri rumahan sendiri”, jelas Yohana.

“Pelatihan sementara ini sedang berlangsung di beberapa tempat, seperti mesin pembuat ikan asap, mesin kopi yang di bagi di Wamena, Mesin pembuat minyak kelapa. Nanti akan ditambah dengan pelatihan pembuatan sagu di pabrik saguserta pelatihan menganyam yang tenaga pengajarnya kualifikasi profesional, kita sengaja datangkan pengrajin dari NTT, Bali untuk mengajar disana”, Ujar Yohana menambahkan.

Menteri Yohana akan berangkat malam ini ke Papua dan sesampainya di Papua akan langsung berkordinasi dengan Dewan Adat Papua agar program tersebut berjalan lancar.(YK)

Senin, 16 Januari 2017

Pendidikan Bagi Suku Korowai Papua Perlu Ditingkatkan


Papuacenter – Proses pendidikan bagi anak-anak suku Korowai di Boven Digoel Papua mulai berjalan pada tahun ini dengan sistem pendidikan berpola asrama. Proses pendidikan bagi anak Korowai ini mencangkup tiga kampung yang ada di Boven Digoel yakni kampung Waina, kampung Senimburu, dan Distrik Yaniruma.

Hal itu diungkapkan oleh Pelaksana tugas (Plt) Kepala Sekolah PAUD/TK, SD, SMP, SMA Korowai, Sergius Womsiwor, Kamis (5/1/17). Sergius menjelaskan bahwa memberikan pendidikan bagi anak suku Korowai ini merupakan tugas dan tanggung jawab yang telah diberikan oleh Menteri Pendidikan Republik Indonesia.

“Tugas ini merupakan instruksi langsung dari Menteri pendidikan RI kepada saya untuk memajukan dan mencerdaskan anak suku Korowai yang tinggal di Boven Digoel. Oleh karena itu, saya siap mengemban tugas mulia tersebut,’’ Ungkap Sergius.

Sementara ini, lanjut Sergius, selama dirinya melakukan survey di kampung-kampung yang didiami oleh suku Korowai di Boven Digoel, dirinya sering menerima banyak persoalan yang terjadi, seperti tidak berjalannya proses pendidikan karena beberapa guru tidak masuk bahkan tidak pernah kembali.

“Ini adalah suatu bentuk keprihatinan, sehingga bagaimanapun juga harus segera ditindak lanjuti oleh Pemerintah,’’ Kata Sergius.

Selain itu Sergius juga mengucapkan banyak terima kasih kepada salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dari LSM Silva Papua Lestari yang selama ini telah melakukan pendampingan terhadap masyarakat suku Korowai.

“Memang banyak kendala yang telah kami alami. Namun, kami tidak akan pernah menyerah untuk terus mencerdaskan anak bangsa, karena Tuhan tidak akan pernah menutup mata, karena apa yang dijalankan adalah kegiatan kemanusiaan untuk masyarakat suku Korowai,” Tuturnya. (Red.AK)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Blogger Themes | LunarPages Coupon Code