Kamis, 16 Februari 2017

Kemenlu: Tidak Ada Jalan Bagi Keanggotaan ULMWP di MSG


Papuacenter – Kementerian Luar Negeri melalui Dirjen Asia Pasifik Afrika Desra Percaya, mengatakan bahwa Subcommittee on Law and Institutional Issues atau subkomite bidang hukum dan keanggotaan di Melanesia Spearhead Group sama sekali tidak membahas posisi ataupun status United Liberation Movement for West Papua (ULMWP).

“Dalam pembahasan subkomite itu tidak ada kesepakatan untuk memberikan posisi ataupun status kepada ULMWP sebagai anggota penuh jadi tidak ada keputusan. Karena tidak ada keputusan ya tidak bisa dibahas apa-apa lagi, karena mandat dari leaders, pemimpin di summit kemarin adalah untuk didiskusikan. Tapi faktanya di lapangan bahwa dalam subkomite itu tidak ada kesepakatan, jadi dengan demikian ya mati,” kata Desra di Kantor Staf Kepresidenan, Veteran, Jakarta Pusat, Kamis (9/2).

Dirinya sangat yakin apapun cara yang akan digunakan oleh ULMWP tetap akan kandas. Hal ini karena sejak 1 Januari 2017 lalu kursi kepemimpinan MSG telah dipegang Papua New Guinea yang  tidak pernah memberikan dukungannya terhadap  ULWMP karena Papua New Guinea sangat menghormati kedaulatan Indonesia.

“Jangan lupa kenapa waktu itu didorong keras, karena ketua MSG adalah Solomon Island kan. Nah sekarang mulai 1 Januari ketuanya adalah PNG, dan PNG itu sangat mendukung Indonesia, sangat menghormati kedaulatan wilayah Indonesia, jadi PNG tidak akan menyetujui adanya upaya untuk memasukkan ULMWP,” ujar Desra.

Sebelumnya pertemuan MSG di Honiara, Kepulauan Salomon pada 13-14 Juli 2016  yang menunda keputusan keanggotaan ULMWP ini disebabkan keputusan Sub Komisi Hukum MSG yang memasukkan kategori negara dalam panduan keanggotaan MSG.

Dengan diberlakukannya panduan keanggotaan MSG tersebut maka tertutuplah peluang ULMWP dan juga FLNKS Kanak Socialist National Liberation Front (gerakan separatis di Kaledonia Baru) untuk menjadi anggota di MSG selamanya. (red,Cs)

Selasa, 14 Februari 2017

Kini Giliran Putri Asal Papua Bawa Nama Indonesia Keliling Dunia

Papuacenter – Putra putri Papua dari ujung timur Indonesia tidak lantas membuat mereka patah semangat dan menyerah tanpa karya. Kini telah banyak putra putri yang  berasal dari Papua mampu mengangkat nama bangsa Indonesia di dunia internasional.

Casparina Theresia Renwarin, wanita kelahiran Jayapura yang akrab dipanggil Ririn ini pada usia 17 tahun usai menyelesaikan sekolahnya di SMA YPPK Taruna Bakti, Jayapura pada 2012 lalu melanjutkan studinya di President University, Cikarang.

Di kampus tersebut Ririn mengikuti program Campus Exchange ke Eropa yakni di negeri kincir angin Belanda tepatnya pada Agustus 2013 selama 2 minggu, setelah wanita 22 tahun ini mampu memperdalam kemampuan berbahasa Inggrisnya kemudian Ia melanjutkan visit ke Jerman dan Belgia.

Satu tahun berselang, Ririn mengikuti program Global Volunteer di Association internationale des étudiants en sciences économiques et commerciales atau international association of students in economic and commercial sciences, Rusia. Asosiasi tersebut adalah organisasi kepemudaan yang diikuti 126 negara dan terfokus pada pengembangan kepemimpinan para pemuda, serta menjadi ambasador di luar negeri untuk menjalankan proyek sosial.

Tidak hanya program pertukaran pelajar dan organisasi kepemudaan saja yang diikutinya, namun Ia juga mengajar Bahasa Inggris dan Matematika pada anak-anak usia 7 hingga 18 tahun di Kota Saint Petersburg, Paris dari bulan Juli hingga September 2014 seperti dirilis detik.

Dari benua biru di Eropa, Ririn melanjutkan penjelajahannya ke Asia tepatnya di Kota New Delhi, India. Di sini Ririn magang di perusahaan IT bernama Denave Pvt Ltd.

“India merupakan negara IT terbesar di dunia setelah Amerika Serikat. (Di sana) saya ingin cari pengalaman di sini, karena rencananya ke depan ingin membuka bisnis semacam start-up company yang bergerak di e-commerce,” ungkapnya.

Setelah menyelesaikan studinya di President University, Ia mengikuti kompetisi Business Idea se-Asia Tenggara, dan berhasil menjadi juara pertama dan membuat harum nama bangsa Indonesia.

Ririn, yang memiliki moto ‘kerja keras akan selalu memberikan hasil yang memuaskan’, masih ingin terus memperdalam ilmunya mengenai IT, terutama yang mendukung bisnis e-commerce.

Sukses dalam bidang pendidikan dan telah menjelajahi beberapa negara di dunia, Ririn berencana meneruskan studinya dengan mengambil S2 di Australia ini. (red,Cs)

Kilang Gas Alam Bintuni Siap Pekerjakan Putra Putri Asli Papua


Papuacenter – 8000 pekerja dibutuhkan dalam pembangunan kilang gas alam cari (Liquefied Natural Gas/LNG) yang ada di Teluk Bintuni, Papua Barat. Mega proyek yang digarap oleh BP Berau Ltd ini menelan investasi sekitar 8 Miliar US$ atau sama dengan Rp. 106,4 Triliun.

BP Regional President Asia Pacific, Christina Verchere menjelaskan bahwa keputusan akhir investasi dalam proyek pengembangan Tangguh, yakni Train 3 disetujui pada tahun lalu.

“Financing sudah selesai, pekerjaan konstruksi Train 3 sedang berjalan, dan target berproduksi pada 2020,” ujar Verchere di komplek LNG Tangguh, Teluk Bintuni, Papua Barat, baru-baru ini.

Dalam kesempatan yang sama juga Indonesia Head of Country, Dharmawan Samsu mengungkapkan bahwa kemajuan pembangunan Train 3 sekarang ini, meliputi mobilisasi 300 pegawai di site, material at site, pekerjaan pemagaran antara Train 2 dan 3, pemotongan pokok, laydown area, dan proses rekrutmen masyarakat asli Teluk Bintuni dan Papua.

“Proyek Train 3 akan menyerap 8.000 tenaga kerja, di mana 35 persennya adalah putra putri Papua,” tegas dia.

Proyek Tangguh Train 1 dan 2, diakuinya, penyerapan tenaga kerja lokal mencapai 54 persen-55 persen dari lebih 2.000 pekerja.

Menurut Dharmawan, banyak dari pekerja Papua sudah menduduki jabatan Maintenance, Supervisor hingga level Manajer. “Dalam rencana kami, target jumlah pekerja Papua sebagai bagian dari setiap kontrak baru, untuk memenuhi komitmen 85 persen pada 2029,” dia menerangkan.(YK)

Jumat, 10 Februari 2017

Festival Budaya Kamoro kembali setelah 17 tahun menghilang


Papuacenter – Dari sekian banyak kekayaan budaya Papua khususnya di wilayah Mimika, terdapat kesenian yang sempat hilang selama tujuh belas tahun, Pemerintah Kabupaten Mimika akan kembali menggelar Festival Budaya Kamoro tahun 2017 ini.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Kabupaten Mimika, Dominggus Kapyau membenarkan rencana pagelaran pentas budaya tersebut saat dikonfirmasi oleh papuanews.id, Jumat (3/1).

“Kami sudah rancang dalam program Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tahun ini karena akan dibentuk dinas baru sehingga saat ini kita masing menunggu restrukturisasi kelembagaan,” terang Dominggus.

Festival tersebut sejatinya direncanakan akan ditampilkan pada tahun 2016 lalu. Sayang, Festival Budaya Kamoro batal dilaksanakan karena berbagai alasan.

“Masih banyak hal yang belum siap, seperti anggaran, mekanisme dan hal sehingga tahun ini kami usahakan untuk digelar,” ujarnya.

Sementara itu, penyelenggaraan Festival Budaya Amungme pun masuk dalam wacana Pemkab Mimika namun kedua budaya tersebut diakui tidak bisa digelar bersamaan sehingga rencananya kedua festival yang merupakan perwakilan budaya asli Kabupaten Mimika tersebut akan digelar terpisah.

“Kalau mau digabung susah, karena kulture nya berbeda, mungkin nanti kita akan buat per semester,” tutupnya. (dw)

MSG tuntut pemberitaan bohong media TABLOID JUBI


Papuacenter – Menanggapi pemberitaan bohong dari media lokal Papua yakni Tabloid Jubi mengenai berita yang berjudul “Masyarakat Papua syukuri ruang kerja ULMWP di Sekretariat MSG” beberapa waktu lalu, akhirnya mendapat respon keras dari Sekretaris Jenderal MSG, Amena Yauvoli.

Sekjen MSG menuntut agar media seperti Tabloid Jubi diperiksa dan diproses secara hukum karena telah melakukan pemberitaan bohong yang jelas dapat memicu masalah sosial yang ada di Papua. Tuntutan Amena Yauvoli tentu saja mengkerucut kepada Wesai H (reporter) dan Sdr. Victor Mambor (editor) yang tentunya adalah aktor dibelakang aksi pemberitaan bohong Tabloid Jubi.

“Tidak ada ruang kerja ULMWP di Sekretariat MSG dan hingga saat ini tidak ada pemberian status keanggotaan penuh kepada ULMWP. Saya menuntut kepada pemerintah Indonesia agar segera memeriksa beberapa oknum Tabloid Jubi yang sengaja membuat pemberitaan palsu tersebut,” Tutur Amena, Selasa (07/02).

Menurut Amena, Pemberitaan tersebut merupakan klaim sepihak dan kebohongan yang disampaikan oleh ULMWP melalui Octavianus Mote, yang dengan mudahnya diambil sebagai sumber berita oleh Wesai H(reporter) dan Victor Mambor(editor).

“Selama ini ULMWP dan KNPB aktif melakukan penyesatan informasi untuk agenda politiknya semata, termasuk pengkondisian seolah-olah ULMWP yang merupakan representasi masyarakat Papua didukung dunia internasional, hal itu semakin membuat saya yakin bahwa ada hubungan antara ULMWP, KNPB dan Media Tabloid Jubi yang mempunyai itikad buruk bagi Indonesia,” Ucap Amena. (Red.AK)

Cerdasnya Putra Papua George Saa di Mata Dunia


Papuacenter - Seorang pemuda yang berasal dari Papua, sebut saja Goerge Saa merupakan juara lomba fisika dunia dimana ia diakui sangat ahli oleh seorang akademis, Profesor Yohanes Surya yang juga merupakan pakar fisika dan pelatih tim Olimpiade Fisika Indonesia. Ia menyebutkan bahwa prestasi George sangat special karena memiliki ketekunan dan inteligensi untuk memecahkan suatu permasalahan.

George sampai saat ini melanjutkan Study S2 teknik material di Inggris yang mana ia mendapatkan sejumlah tawaran beasiswa setelah menang dalam kompetisi dunia First Step to Nobel Prize dalam fisika pada tahun 2004 saat ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Dan ia melanjutkan Study dengan gelar sarjana dalam bidang Aero space Engineering di Florida, Amerika Serikat.

“Ia menemukan cara menghitung hambatan dari suaturangkaian tak hingga dari bentuk segi enam. Segi enam beraturan menjadi dasar pembuatan sarang lebah. Pasti ada sesuatu yang menarik dari geometri sarang lebah,” ujar Yohanes.

“Perumusan Saa ini nantinya akan terpakai kalau orang sudah mampu memanfaatkan rangkaian elektronik berbentuk rangkaian sarang lebah ini,” lanjutnya.

Prestasi Saa tentu saja sangat spesial. Tidak mudah untuk melakukan penelitian ini. Ia melihat sendiri bagaimana Putra Papua ine bekerja keras mengatasi berbagai kesulitan yang timbul. Lomba penelitian The First Step itu menuntut kesabaran, ketelitian, ketekunan dan inteligensi yang baik untuk memecahkan masalah yang ada.

George mengatakan sendiri bahwa dalam tiga sampai lima tahun kedepan ingin masuk intitusi riset Indonesia. Tujuannya adalah menggabungkan teknik dirgantata dengan teknik mesik yang selama ini telah ia pelajari.

Ia juga memiliki mimpi untuk diterapkan di Papua termasuk sekolah dasar yang digratiskan dan dengan makan siang.

“Menurut saya, sekolah dasar harus digratiskan, anak sekolah dijemput setiap hari pulang perginya. Makan siang dikasih gratis di sekolah dan program pembimbingan khusus disediakan untuk keterampilan khusus. Ini untuk SMP-SMA,” harap George.

“Untuk Universitas, saya memimpikan dan ingin menginisiasi penelitian berkolaborasi dan sistem database riset yang lengkap. Untuk Papua, dikampus-kampus, saya ingin menciptakan design center dengan Smaal-Scale Manufacturing Capability. Tujuan saya, yakni Product Creation dimana penciptaan produk berbasis teknologi yang akan sangat menguntungkan untuk daerah dalam berbagai aspek, misalnya ekonomi dan bisnis,” tambahnya.

Lucunya, George menceritakan pengelaman belajarnya serta keinginannya kelak pada segmen tanya jawab di sebuah situs Media Online.

Leonahardt T Anggara     : Dengan keadaan Indonesia sekarang ini yang sedang marak intoleransi, Apakah kamu akan kembali ke Indonesia??

George                                  : Tetap balik. Intoleran ini hanya sedikit bagian kecil di negara kita dan cukup dibesarkan di TV, Internet. Masih banyak orang kita yang telorenkan?

Putri Yhani Utami               : Ketikan waktu kecil dulu yaitu masa SD dan SMP apakah anda termasuk anak yang rajin belajar??

George                                  : Saya dulu jarang belajar dirumah walau selama di SD rangking 1 terus. Sebagai orang tuan, dari apa yang saya lihat dari orang tua saya, kebebasan tetap diberi. Tetap memberikan arahan kepada anak.

Siti Halwah                           : Selain menggabungkan kedirgantaraan dengan teknik mesin yang kamu pelajari diluar negeri, akankah kamu bersedia berbagi ilmu yang kamu miliki di Universitas yang tidak terlalu terkenal??

George                                  : Pernah Berpikir mau jadi dosen kunjung ke Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu. Pasti ingin sekali saya membagi ilmu.

Matheus Siagian                 : Semoga ceritamu bisa menjadi inspirasi buat banyak siswa-siswi di Indonesia. Kalau kamu bisa kasih masukan kepada siswa-siswi yang kesulitan belajar matematika atau fisika, kira-kira apa tips yang bisa mereka dapat dari kamu??
Baca juga :   Bawa Bintang Kejora, Simpatisan KNPB di Jakarta Diamankan

George                                  : Punya guru yang menginspirasi dan bukan saja mengajar lebih penting dibanding metoda belajar kalau menurut saya.

Valerie Arisoi                       : Dengan berbagai permasalahan di Indonesia. Lebih khusus di Papua, mulai dari listrik, sampai ke masalah lainnya seperti lingkungan dan teknologi industri. Apakah kakak akan kembali ke Papua dan berbagi ilmu di Papua??

George                                  : Berbagi ilmu sudah pasti. Saya berpendapat, industri tidak berkembang di kita Papua itu salah satunya karena supply listrik dan stabil untuk operasi industri. Industri di Papua itu tidak bisa dibangun karena supply listrik ini. Kalau di BP, Freeport, mereka ok karena punya power plan sendiri. Nah, kita ini belum. Saat ini, kita di Papua belum ada indikasi good political will.

Bunda El Indira                   : George kebangganku, besar sekali badanmu nak, sehat ya, jangan lupa kalau ada yang tanya kau orang mana jawab yang lantang,,,, INDONESIA punya!! OKE..

George                                  : Membacanya jadi tersenyum. Saya terima saran dan salam.

Liliana Tanggu                    : kisah hidupmu pasti akan saya ceritakan ke siswa-siswi saya di Biak Numfor sehingga menjadi motivasi kelak mereka bisa sama sepertimu kalau bisa lebih hebat darimu.

George                                  : Salam dari Birmingham, Bitania Raya, Sukses mengajar Liliana.

Fadhil Erlanda Arlan          : Indonesia menanti George untuk berkrasi di Indonesia. Nah, jika ada tawaran kerja dari riset di luar negeri dengan fasilitas dan gaji lebih bagus, apakah George masih mau di Indonesia??

George                                  : Fadhli, Saya Balik Indonesia, Papua. (Adr)

Harapan Papua Melalui Film Boven Digoel


Papuacenter – Hari ini telah dirilis serta tayang Film produksi orang asli Papua, Bonven Digul dimana Film ini diambil dari kisah nyata seorang dokter yang memiliki pesan penting. Angka kematian ibu dan bayi di Papua sangat tinggi. Pesan ini, kendati telah menjadi rahasia umum , tetapi masih menjadi momok yang menakutkan.

Diambil dari Data Dinas Kesehatan Provinsi Papua 2015, kematian bayi di sembilan Kabupaten Papua masih tinggu, yakni 20 kematian per 1.000 kelahiran bayi.

“Kematian ibu dan anak di Papua sangat tinggi, karena HIV, TBC. Tertinggi di Indonesia,” ujar produser Boven Digul, John Manangsang, di Jakarta kepada tim Redkasi PNID, Senin (6/2).

Setiap tahun ada sekitar 50 orang ibu hamil di Papua. Tetapi pertumbuhan orang asli Papua tetap tidak meningkat, bahkan semakin menurun.

“Pertumbuhan penduduk asli Papua itu sangat sedikit. Satu ibu Papua hamil, itu harus menjadi perhatian kita. Kalau tidak, kita akan kehilangan dia”, jelasnya.

Pesan Kedua yang ingin disampaikan oleh Film ini ialah pembangunan. Meski pemerintah sudah mulai melakukan pembangunan di Papua, tetapi wilayah ini masih tertinggal.

“Kami ingin mendorong pembangunan secepatnya di Papua, agar mereka bisa tumbuh dan berkembang. Kami berharap, film ini menjadi medianya,” tambahnya.

Ketiga, kurangnya tenaga medis. Pada tahun 1990, Saat cerita film Boven Digul dibuat, rumah sakit dan dokter masih sangat sedikit, bisa dihitung jari.
Baca juga :   42 Ribu Warga Nabire Belum Melakukan Perekaman E-KTP

Tetapi, setelah 25 tahun berlalu, mulai tampak perubahannya. Puskesmas dan dokter sudah mulai banyak. Namun, tetap sangat kurang, apalagi tanpa fasilitas.

“Papua itu ibarat gadis cantik yang terus menangis, tapi belum ada yang melirik. Semoga film ini bisa membuat semua pihak menengok Papua,” pungkasnya,” (Adr)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Blogger Themes | LunarPages Coupon Code